Selasa, 23 Maret 2010
Pelaksaan BK bagi Guru Mata Pelajaran
dalam Proses Belajar Mengajar.
By. H. Sutirna, Drs, M.Pd.
Konsep Serta Peran Bimbingan dan Koseling dalam Proses Belajar Mengajar
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu unsur terpadu dalam keseluruhan dalam program pendidikan lingkungan perguruan tinggi. Bimbingan dan konseling di perguruan tinggi adalah suatu proses pemberian bantuan kepada mahasiswa yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya mahasiswa tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar. Dengan demikian, ia dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan dapat memberi sumbangan yang berarti pada kehidupan masyarakat umumnya. Bimbingan dan konseling membantu mahasiswa mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai mahluk sosial.
Begitupun bimbingan dan kosneling di sekolah dasar, mengah pertama, dan sekolah menengah atas adalah pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik dengan tidak memandang suku, agama, dan ras juga tidak memandang latar belakang social, budaya dan ekonomi. Bahkan tidak memandang kemampuan inteltual/ kecerdasan peserta didik, artinya bimbingan untuk semua peserta didik ( guidance for all student).
Bimbingan dan konseling diperguruan tinggi mewarnai seluruh aktifitas yang diselenggarakan dipergruan tinggi termasuk dalam pross belajar mengajar karena bimbingan dan konseling itu mempunyai peran yang strategis dalam megembangkan potensi manusia yang ada diperguruan tinggi.
Peran bimbingan dan konseling dalam proses belajar mengajar merupakan salahsatu kompetensi dosen atau guru yang terpadu dalam keseluruhan kompetensi pribadinya. Dalam hal ini, peran bimbingan dan konseling itu merupakan kompetensi penyesuaian interaksional yang merupakan kemampuan dosen atau guru untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik mahasiswa/peerta didik/ siswa dan suasana belajar mahasiswa/peerta didik/ siswa
Peran Bimbingan seorang dosen atau guru sebagai penyesuaian interaksional dalam proses belajar mengajar yang bermakna itu dapat diartikan sebagai perlakuan dosen atau guru terhadap mahasiswa/peerta didik/ siswa dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Perlakuan terhadap mahasiswa/peserta didik/ siswa sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang lebih maju, serta mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mandiri.
Sikap positif dan wajar terhadap mahasiswa/peerta didik/ siswa
Perlakuan terhadap mahasiswa/peserta didik/ siswa secara hangat, ramah, rendah hati, dan menyenangkan.
Pemahaman mahasiswa secara empatik
Kesadaran bahwa tujuan mengajar bukan terbatas pada penguasaan mahasiswa/peserta didik/ siswa terhadap bahan pengajaran saja, melainkan menyangkut pengembangan mahasiswa/peserta didik/ siswa menjadi individu yang lebih dewasa.
B. Peran Bimbingan dalam Kegiatan Belajar Mahaiswa/peserta didik/ siswa
Pribadi dosen atau guru merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kegiatan belajar mahasiswa/peserta didik/ siswa. pribadi dosen atau guru, dalam hal ini mencakup tentang mengajar, kekuatan pribadinya, serta pandangan hidupnya, termasuk pandangan kepeduliannya tentang bimbingan. Hal tersebut sangat mempengaruhi kegiatan belajar mahasiswa/peserta didik/ siswa, ketika dosen atau guru memiliki pribadi yang baik, maka ia akan sangat peduli terhadap perkembangan belajar mahasiswanya/peserta didik/ siswanya. ketika dosen atau guru memiliki kepekaan, sansitivitas dan pemahaman terhadap perkembangan mahasiswa/peserta didik/ siswa, maka akan tercipta suatu keharmonisan yang sangat baik dan akan menciptakan suasana belajar kondusif dan nyaman dalam proses pembelajaran dikelas.
C. Peran Bimbingan dalam Interaksi Dosen Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar itu terdapat tiga aspek kegiatan pokok yang selalu terjadi, yaitu pengajaran, (instruction), kepemimpinan (leadership), dan penilaian (evaluation). Dalam hubungan ini, aspek kepemimpinan merupakan aspek yang sangat penting karena proses belajar mengajar merupakan pelaksanaan suatu rencana pengajaran yang memerlukan kemampuan dosen atau guru dalam memimpin kegiatan. Dalam kepemimpinan, ada unsur pokok peran bimbingan, yaitu memberi kemudahan (facilitation) dan pemeliharaan (maintenance).
Untuk memberi kemudahan, dosen atau guru berusaha :
Menciptakan suasana kerja sama dan mempersatukan upaya didalam kelas;
Membangun tolak ukur tindakan dan mengordinasikan prosedur kerja,
Memperbaiki suasana kelas dengan mengunakan cara penyelesaian masalah kerja:
Mengubah atau memodifikasi suasana dalam system kelas.
Untuk memberi kemudahan dalam proses belajar mengajar, sepatutnya dosen menunjukkan sikap terbuka, empatik, keikhlasan (genineness), dan kemantapan emosional.
Fungsi pemeliharaan (maintenance) meliputi unsur-unsur :
Memelihara dan meningkatkan semangat mahasiswa/peserta didik/ siswa
Menengahi pertentangan atau konflik supaya menjadi suasana yang bermanfaat.
Membantu kelompok siswa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan
Mengurangi rasa tertekan (stress) dan kecemasan.
Memelihara iklim psikologi kelas supaya terjadi suasana gembira, bersemangat kerja, berkompetisi secara sehat, tiada tekanan serta terpupuk keinginan untuk maju dan berprestasi
D. Peran Bimbingan dalam Interaksi Manusiawi
Mengajar tidak hanya melimpahkan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa.melainkan merupakan suatu proses interksi manusiawai yang mendalam guna mengembangkan kedewasaan mahasiswa. Hal ini menunjukkan pentingnya peranan interkasi manusiawi dalam rangka proses belajar mengajar
James E.Weigend berpendapat, “bahwa proses belajar mengajar terpusat pada diri mahasiswa/peserta didik/ siswa dengan membangun kondisi atau suasana belajar yang menyeangkan, serta memanfaatkan kompetensi dosen atau guru, terarah pada pendidikan yang mempribadi (personaling education) melalui interksi manusiawi antara mahasiswa/peserta didik/ siswa dan dosen atau guru0
.
Kondisi atau suasana belajar yang menyenangkan itu dikhususkan pada unsur-unsur berikut :
Kebebasan untuk menjelajah (explor)
Suasana belajar yang baik memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan pendekatan dan cara yang bervariasi.
Mahasiswa/peserta didik/ siswa tidak diarahkan untuk hanya menggunakan satu cara dalam menyelesaikan masalah. Di kampus terkadang, dosen atau guru seakan-akan memaksa mahasiswanya untuk menggunakan satu cara saja, misalnya dalam menyelesaikan masalah fisika, dosen atau guru melatih siswanya untuk menggunakan jalan tungal yang menurut pendapatnya merupakan jalan yang paling mudah. Hal itu mungkin dapat mempercepat penyelesaian dalam mengerjakan soal-soal fisika, tetapi mahasiswa/peserta didik/ siswa tidak diberi kesempatan untuk belajar kreatif
Waktu yang cukup untuk menjelajah
Kecukupan waktu ini disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa/peserta didik/ siswa. Kondisi ini sangat penting,mengingat bahwa proses belajar itu menyangkut proses berpikir, dan berpikir itu memerlukan waktu. Waktu yang dibutuhkan untuk berfikir itu berfariasi diantara para mahasiswa/peserta didik/ siswa. Seorang mahasiswa/peserta didik/ siswa yang tidak cukup diberi waktu untuk berpikir sesuai dengan kemampuannya,cenderung unuk lekas putus asa.
E. Penutup
Dengan memperhatikan uraian tersebut, tampak bahwa peran bimbingan dalam proses belajar mengajar yang diwujudkan melalui interaksi manusiawi antara dosen/guru dan mahasiswa/peserta didik/ siswa mempunyai peran penting dalam melestarikan hasil belajar mahasiswa dalam hasil pendidikan yang mempribadi, suasana kelas yang dilatarbelakangi interaksi manusiawi itu mendorong dosen untuk bukan hanya sekedar memindahkan pengetahuan kepada mahasiswa, melainkan mendorong mahasiswa untuk belajar.
Proses seperti itu akan melipatgandakan kebermaknaan belajar bagi mahasiswa yang bersangkutan.kebermaknaan belajar bagi mahasiswa itulah yang merupakan penunjang yang sangat penting untuk mencapai prestasi belajar yang sesungguhnya. Dalam keadaan itu, belajar bukan lagi menjadi beban bagi mahasiswa, melainkan menjadi suatu kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Nurihsan Juntika A. (2006) Bimbingan dan Konseling dalam Latar Berbagai Kehidupan. Bandung : PTRefika Aditama
LN Syamsu Y dan Nurihsan Juntika A. (2005) Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA
Jumat, 26 Februari 2010
Berikan yang terbaik buat semua
Hati menangis ketika melihat guru dengan wajah yang sangat semangat memberikan do'a dan cita-cita kepada saya, anak-anak yang dengan polos mengatakan "pak jangan lupakan kami, walaupun bapak telah jauh meninggalkan kami", dan teman seperjuangan serta masyarakat "melambaikan tangan dan mengirngi do'a untuk kami selekuarga. Namun tugaslah yang membawa kami berpisah tetap hati kami sekeluarga sulit untuk melepaskan tali silaturahmi yang telah terbangun walaupun hanya 2,6 tahun, tak terbayangkan oleh kami sekeluarga betapa indahnya tali persaudaran di daerah tersebut, tak terduga oleh kami ketika kami ditugaskan, dan tak terindahkan akan terjadi nuansa keakraban seperti ini.
Akhirnya, Allah SWT maha mengetahui, maha penyayang, maha besar semoga apa yang telah saya berikan untuk masyarakat Desa Kutamaneuh khususnya anak-anak kami tercinta yang perlu ilmu semoga mereka semua menjadi penerus kami di daerah tersebut dan menjadi ujung tombak perjuangan desa tersebut untuk maju di masa yang akan datang.
Anak-anakku, guru, dan staf tata usaha yang saya cintai, berjuanglah terus untuk anak-anak, karena anak-anak membutuhkan Anda di depan sebagai tiang pancang masa depan, jangan bersedih jangan menangis kuatkan niat untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak SMP Negeri1 Tegalwaru Karawang.
Good Bye, Sayonara, Pileuleuyan, Insya Allah saya akan siap membantu dan saya sekularga tidak akan melupakan Anda semua.
Minggu, 10 Januari 2010
SEMINAR BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR
Pendaftaran di masing-masing pengurus MGBK Kab/Kota di Karawang, Subang, Bekasi, dan Purwakarta, distribusi penyelenggaraan Rp. 75.000 per peserta. Pelaksanaan tanggal 15 Februari 2010 pukul 08.00 s.d 14.00, lebih jelasnua dapat menghubungi Drs. H. Sutirna, M.Pd. (081317684081).
Selasa, 22 September 2009
BAHAN PRESENTASI LDKM STIKIP SILIWANGI BANDUNG
Apakah Perbedaan antara Negara Berkembang (Miskin) dan Negara Maju (Kaya) ?
dunia, dan penduduknya tidaklagi miskin.
Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin,Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80% berupa pegunungan dan tidak cukup untukmeningkatkan pertanian & peternakan,Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia.
Jepang laksana suatu negara “industriterapung” yang besar sekali, mengimpor bahanbaku dari semua negara di dunia danmengekspor barang jadinya
Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia.Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami.Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia).
Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas, dan ketertiban tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
Apa sih yg membeda
kan?
Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut:
Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejamkepada kita,Kitaterbelakang/lemah/miskin karenaperilaku kita yang kurang/tidakbaik.Kita kekurangan kemauan untukmematuhi dan mengajarkan prinsipdasar kehidupan yang akanmemungkinkan masyarakat kitapantas membangun masyarakat, ekonomi, dan negara.
Dihubungkan dengan materi Kepemimpinan pada LDKM STKIP Siliwangi tanggal 28 September 2009 sangat relevan bahwa 9 prinsip dasar kehidupan diterapkan oleh semua pemimpin tanpa kecuali jika ingin negara kita menjadi kaya.
Selasa, 01 September 2009
Tiga Pilihan setelah Ramadhan
Mari kita merenung dan berintroveksi masing-masing, apakah akan memilih kelompok Celaka? atau kelompok Merugi setelah menyelesaikan ibadah saum di bulan Ramadhan? sangatlah nista jika ada seseorang yang berkeinginan memasuki kelompok tersebut, karena mustahil manusia/seseorang berkehendak celaka dan merugi dalam hidup dan kehidupannya.
Oleh karena itu, pilihlah menjadi kelompok umat yang mulia dengan prinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, Insya Allah predikat yang dijanjikan oleh ALLAH SWT dalam Surat Al Baqoroh 183 akan tercapai, yaitu menjadi manusia yang bertaqwa.
Dengan demikian mari kita jadikan Pendidikan dan Pelatihan yang Allah SWT sediakan dalam waktu satu bulan ini dijadikan sebagai pusat peningkatan umat Islam untuk lebih baik dan lebih baik bukan menjadi tambah buruk. akhirnya semoga Allah SWT selalu memberikan jalan yang terbaik dalam hidup kita dan semoga kita termasuk kepada golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin.
Rabu, 05 Agustus 2009
Kecerdasan untuk seorang Pemimpin
Sutirna, 05 Agustus 2009
Enam puluh empat tahun sudah bangsa kita Merdeka dari tangan penjajah, namun tetap saja negara kita masih terbelakang dalam segala bidang. oleh karena itu ada tiga komponen kecerdasan yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin atau para anak-anak bangsa, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan akan norma-norma/nilai-nilai keagamaan (SQ).
Jika kita analisis, bagaimana jika seseorang anak bangsa, khususnya pemimpin yang hanya memiliki dua kecerdasan dalam kehidupannya? apa yang akan terjadi? mungkin inikah jawaban yang tepat untuk direnungkan secara mendalam negara kita ini tertinggal dari negara lain?
Akhirnya tulisan singkat ini, saya mengajak kepada seluruh komponen bangsa untuk terus berjuangan untuk memiliki ketiga kecerdasan tersebut secara cepat, sehingga negara kita yang telah berumur setangah abad dapat bersaing dengan negara lain.
Sabtu, 18 Juli 2009
Hasil Binaan Siswa Yang Sinergis
SMP NEGERI 1 TEGALWARU
JUARA III TINGKAT PEMULA PASKIBRA
SE-KABUPATEN KARAWANG

Radar (04-01-2009) Di awal tahun 2009, para siswa SMP Negeri 1 Tegalwaru memperoleh kegembiraan dari hasil binaan Paskibra oleh Bapak. Samsudin walaupun prestasinya hanya baru mencapai Juara III Tingkat Mula Paskibra Se-Kab. Karawang yang diselenggarakan oleh PPI Kab. Karawang pada hari Minggu, 04 Januari 2009 di Plaza Pemda Karawang. Hal ini merupakan wujud dari sebuah pembinaan yang sinergis dari seluruh komponen SMP Negeri 1 Tegalwaru
termasuk masyarakat Desa Kutamaneuh Tegalwaru dimana sekolah tersebut berada dan sekaligus sebagai bukti nyata bahwa dapat mengalahkan Paskibraka-Paskibraka yang ada di perkotaan. Selanjutnya Samsudin sebagai pembina kesiswaan mengatakan : ”juara ini sangat bangga bagi kami, karena baru pertama kali mengikuti dan bahkan peserta yang diikutsertakannya pun siswa kelas VII, jadi Insya Allah tahun depan kita akan lebih meningkat”.
Begitu konsennya terhadap pembinaan siswa dalam hal berbagai kegiatan, Radar hanya bertemu dengan seorang pimpinan SMP peserta yang hadir, adalah Bapak Drs. Sutirna, M.Pd selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Tegalwaru serta sekaligus beliau menyampaikan pada Radar sebagai berikut: ”Kegiatan ini sangat-sangat positif dan perlu kita dukung dan perlu kita support agar mereka para siswa benar-benar memiliki pengalaman yang sangat berharga dalam disiplin khususnya serta pergaulan sebagai kompetensi sosial untuk bekal mereka di masa depan” selanjutnya dikatakan oleh beliau juga merasa bangga karena dari Kecamatan Tegalwaru dapat memperoleh dua juara, yaitu Juara II Tingkat Utama Paskibra Tingkat SD/MI Se-Kab. Karawang oleh MI Asasul Islam Tegalwaru Karawang yang dipimpin oleh Bapak Wono Sulaeman (Pembina) dan Bubun Mahbubi (Kepala sekolah) dan Juara III Tingkat Mula Paskibra Tingkat SMP/MTs Se-Kab. Karawang oleh SMP Negeri 1 Tegalwaru dan mudah-mudahan hal ini dapat dijadikan cermin bagi sekolah-sekolah di Kecamatan Tegalwaru untuk dapat memberikan kesempatan kepada para siswa berkompetisi di berbagai kegiatan di tingkat kabupaten atau provinsi dan dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi para pembina dan kepala sekolah untuk terus berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Amin.

